Ela Nurlaela: Masuk KAUST dengan “Wildcard Ticket”

Ela Nurlaela: Masuk KAUST dengan “Wildcard Ticket”

Oleh: Ela Nurlaela, Alumni PhD program di Chemical and Biological Engineering.

 

Setelah sebelum-sebelumnya membaca kisah sukses teman-teman yang lain masuk KAUST, saya ingin bercerita tentang proses mengharu biru proses saya daftar sampai diterima di KAUST.

Saya masuk KAUST ketika beasiswa LPDP dan beasiwa-beasiswa lainnya belum menjamur seperti sekarang. Kalaupun ada, kebanyakan mensyaratkan untuk pernah bekerja di institusi pemerintah atau mempunyai posisi di Indonesia, I was no one. Tiba-tiba tersasarlah saya ke sebuah album fesbuk seorang teman yang memperlihatkan perumahan yang cantik dan besar yang diperuntukan untuk mahasiswa postgraduate. Sebagai seorang yang belum pernah merasakan tinggal sendiri di rumah (baca: bertahun-tahun menjadi anak kos atau asrama) sayapun tertarik untuk mengetahui lebih jauh. Setelah mencari info ke sana ke mari, tahulah saya bahwa kampus itu bernama KAUST. Sebuah kampus baru, megah, lengkap dengan semua fasilitasnya. Tanpa pikir panjang, sayapun langsung mengubek-ngubek website KAUST, tujuan saya, mencari advisor yang bidang kerjanya sama atau kurang lebih berkaitan dengan pekerjaan saya sebelumnya. Setelah menemukan jurusan yang  cocok, sayapun menghubungi direktur center yang ingin saya tuju dan dirujuk ke sekretarisnya. Bu sekretaris akhirnya memberikan saya link mengenai cara untuk apply dan semua persyaratannya.

Sedikit terkejut dengan persyaratan yang ada, saya pede saja apply. Sebelum apply, saya menghubungi seorang advisor dan menyatakan ketertarikan saya kepadanya (baca: ketertarikan untuk riset di labnya) dan beliau setuju untuk menjadi supervisor saya dan sayapun diterima di KAUST??? Tidak, jalannya tidak semulus itu. Ternyata ada beberapa persyaratan (baik yang tersirat ataupun tersurat) yang belum bisa saya penuhi. Tapi, saya tetap pede dan berargumen dengan menunjukan “modal” saya yang lain, menaikan posisi tawar juga.

Jadi, waktu lulus S1 saya bukan cumlaude, IPK saya hanya 3 koma sedikit, IELTS saya kurang dari 6.5 (Ok, itu test IELTS pertama dan terakhir saya—pembelaan dikit boleh ya), dan S2 saya tidak ada daftar nilai atau IPK atau GPA karena S2 saya by research, tidak ada mata kuliah yang harus saya ambil jadi tidak ada nilai. Sedangkan KAUST, jelas-jelas meminta ijazah yang ada GPA nya, nilainya harus sekian dan bla-bla-bla. Sayapun berargumen melalui pak supervisor. Ngomporin pak supervisor untuk appeal. Saya tunjukan bahwa riset adalah satu-satunya minat saya, riset S2 saya sejalan dengan riset yang akan dikerjakan di KAUST, waktu S2 saya ada beberapa paper walaupun bukan di jurnal mentereng; sampai dapat best paper award dan sebuah book chapter. Saya buat juga statement of purpose yang sangat melangit, menceritakan berbagai pengalaman riset saya; yang ternyata ga ada apa-apanya dibanding pengalaman riset di KAUST.

Setelah menunggu dalam ketidakpastian selama dua bulan, setelah email berpuluh-puluh kali, akhirnya datang email dari pak supervisor yang menyatakan saya ditolak. Perih! Tapi saya tidak menyerah. Saya minta penolakan resmi karena ketika masa menunggu pengumuman KAUST ini saya sudah menolak tawaran S3 dari kampus di Malaysia dan negara jauh di selatan sana, lengkap dengan beasiswanya.

Entah bagaimana caranya, pak supervisor akhirnya kembali dengan email yang lebih menenangkan. Saya diterima! Yup, karena penolakan sebelumnya hanya dari sebagian faculty, dan setelah lobi-lobi dengan admission dan menunjukan bukti-bukti yang relevan dan menguatkan, saya dinyatakan layak menjadi mahasiswa KAUST. Alhamdulillah, sebuah awal berliku untuk perjuangan 4 tahun kedepannya, yang jauh lebih berliku, dan berwarna-warni.

Moral of the story…

Untuk teman-teman yang ingin mendaftar menjadi mahasiswa di KAUST, jangan pernah menyerah tapi jangan kepedean juga. Jika merasa kita sudah memenuhi syarat walaupun syarat minimal, kita juga harus punya hal lain yang bisa dijual untuk menaikan posisi tawar. Cari informasi sebanyak-banyaknya, baca sebanyak-banyaknya, jangan sampai bertanya ke orang lain saya cocoknya jurusan apa atau masuk lab mana. You know yourself better, you know your capability, and you know your research better than anyone else

Begitu kata pak supervisor saya dulu.

 

Alumni yang susah move on J

Catatan:

Dr. Ela Nurlaela merupakan alumni progam PhD di Chemical and Biological Engineering (CBE) KAUST. Beliau menempuh studi MS di Universiti Teknologi Petronas, Malaysia dan memperoleh gelar sarjana dari Universitas Gadjah Mada, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *