Jalan-jalan Plus Jajan-jajan Ala KAUST

Jalan-jalan Plus Jajan-jajan Ala KAUST

Sebuah Pengalaman Kuliner Mengguncang Jiwa (Part 1)

Siapa yang tak tertarik jika di depan kita tersaji semangkuk bakso hangat yang masih mengepul? Siapa yang tak tergoda untuk mencicip semangkuk soto babat lengkap dengan emping, sambal, dan acarnya? Siapa yang tega menolak lezat dan kaya rasanya seporsi sate padang dengan lontongnya? Apalagi jika kita lama tak menjumpainya. Apalagi jika kita tinggal di perkampungan pinggir laut yang cukup berjarak dari kota. Apalagi jika kita tinggal di KAUST…

 

CIMG7658jual-pempek-palembang

 

 

Tinggal di KAUST selama lebih dari 2 setengah tahun membawa kenangan manis, tak hanya di hati, namun juga di lidah. Pada waktu awal tiba di sini, saya, yang di Indonesia hobinya jajan ke mana-mana, yang hapal nama dan lokasi warung siomay di seluruh Jogja, yang suka sarapan sambil keringetan dengan soto daging ala mBantul ini, merasa menderita. Beneran. Serius. Menderita.

Tak ada Mie Ayam Bakso Pak Kribo yang biasa saya beli di persimpangan dekat Toko Maga. Tak ada Mang Odoy, si tukang bubur ayam, yang selalu lewat di depan rumah pas jam setengah enam pagi. Tak ada Siomay Kang Ditya di seberang pom bensin yang selalu rame hingga malam. Tak ada tukang nasi goreng tek tek yang lewat depan rumah, tak ada tak ada bakmi jawa dan magelangan, tak ada ini, tak ada itu..

Tapi, itu dulu.

Kalau anda bertemu dengan saya sekarang, saya bilang saya bahagia. Hasrat kuliner saya cukup terpuaskan dengan apa yang saya temui di negara penuh gurun pasir ini. Meski petualangan saya belum terlalu banyak, sebanyak beberapa teman yang lain di sini, namun saya rasa, petualangan ini layak untuk dibagi dengan anda, jika anda seorang yang baru tiga hari berada di KAUST, atau jika anda sedang mengisi aplikasi online di website KAUST, atau bahkan jika anda sekedar penasaran dengan ‘apa sih KAUST?’ lalu kesasar dan nemplok di website KAUSTINA ini J

Dari KAUST, yang berjarak sekitar 89 km dari Jeddah, kita bisa memulai petualangan kita menggunakan bus yang disediakan. Busnya bagus kok, buagus malah, jika dibandingkan dengan KOPAJA di Jakarta atau KOPATA di Jogja. Busnya sebanding dengan bus-bus pariwisata yang bisa menampung 40-an orang. Bus- bus ini dilengkapi dengan toilet kecil di bagian tengah, Air Conditioner, bagasi yang cukup luas, serta lampu baca. Namun, kita harus sering-sering mengecek jadwal, atau menghafal jadwal bus di luar kepala karena tidak setiap hari bus itu melayani setiap rute (ke Mall atau pusat perbelanjaan lain, atau ke Rumah Sakit), dan jadwal berangkat dan pulang yang bisa berbeda di hari yang berbeda. Pokoknya, pastikan kita tahu waktu pasti keberangkatan dan kedatangannya.

Bakso

Bakso adalah salah satu makanan andalan Indonesia. Makanan yang cukup sederhana diracik ini sudah cukup terkenal di mana-mana, termasuk di Saudi. Dengan jumlah TKI yang legal dan ilegal mencapai satu jutaan, tak mungkin kita tak bisa menemukan bakso di negara ini. Apalagi jumlah jamaah haji dan umroh Indonesia adalah yang terbesar di seluruh dunia. Menyediakan bakso bagi mereka adalah sebuah keharusan!! 😛

Jika anda ingin mencoba bakso di Jeddah, yang pertama musti dicoba adalah bakso di Warung Bakso Mang Oedin yang berlokasi di Ballad. Karena ini adalah makanan utama yang ditawarkan di sini, kita wajib menerima tantangan si pemilik untuk mencicipinya. Pemiliknya orang Indonesia asli yang sudah lama tinggal di Saudi. Kalau anda sedang beruntung anda bisa menikmatinya tanpa merogoh satu halalah pun. Ketika beliau mengunjungi warungnya, biasanya ia meng-gratis-kan semua orang yang sedang makan di sana. Asik!

Rasanya lumayan enak dan mengobati kerinduan kita, meski bagi saya bakso di sini bukan yang terbaik di Jeddah. Bagi saya, kuah kaldunya sedikit kurang mantap dan agak sedikit pedas merica untuk anak balita. Baksonya cukup enak dan kenyal walau kurang berasa dagingnya. Sayurnya juga bukan sawi hijau, karena agak susah dicari di sini, tapi diganti irisan seledri dan tauge. Penambahan tauge ini yang agak membuat saya tidak nyaman dengan rasanya. Meski begitu, seporsi bakso ini masih sangat bisa dinikmati untuk mengobati kerinduan. Kita juga perlu memberi apresiasi untuk harganya yang cukup murah. Cukup dengan 10-15 riyal kita bisa menikmatinya. Bakso Mang Oedin ini tidak hanya populer di jamaah haji dan umroh dan TKI saja, tetapi banyak pekerja dari negara lain seperti Filipina dan India, bahkan orang Saudi, yang juga terlihat sering menikmati bakso di tempat ini. Saking ramenya, di dekat lokasi, banyak penjual kebab yang memasukkan bakso ke dalam menunya. Ada yang memberi nama Bakso Mediterranian, Bakso Suka Rasa,dll. Tapi saya tidak menjamin rasanya (karena belum pernah mencoba) dan yang memasak bukan orang Indonesia, tetapi orang India.

Kini warung bakso Mang Oedin menjadi salah satu tempat nongkrong yang lumayan nyaman sebagai tempat singgah kita di Ballad. Pada waktu pertama kali saya mampir, warung ini hanya terdiri dari toko (tempat memasak dan kasir), dan kursi meja yang disusun berjajar di bawah tenda non permanen, tanpa ada bangunan yang mengelilinginya. Kini, tempat makannya sudah dibangun bangunan berdinding kaca dengan fasilitas full AC. Dulu, kalau kita pesan bakso, ajang yang digunakan bukannya mangkuk, tetapi bakso disajikan dengan disposable plastic bowl. Mungkin ini yang membuat saya tidak terlalu menyukainya. Tapi kini, seporsi bakso di warung Mang Oedin disajikan dengan sangat layak, dengan mangkuk yang sebenar-benar mangkuk.

Selain di Mang Oedin, di Ballad kita juga masih bisa menemukan bakso. Di restoran Garuda (dari namanya kita tahu ini pasti restoran Indonesia), yang letaknya di lantai 2 sebuah ruko di dekat toko Ali Murah, kita juga bisa menemukannya. Rasa baksonya juga mantap, pantas ulasan restoran-restoran Indonesia di sini, tunggu kelanjutan ceritanya di part berikutnya, ya…

Kembali ke bakso. Selain kita bisa membeli bakso siap santap, kita pun bisa menemukan bakso glindhingan-nya di Jeddah. Kita bisa membeli bakso produksi lokal yang selalu tersedia di Baghalah (toko) Indonesia, seperti Toko Singaparna 1, Singaparna 2, yang berlokasi di Sharafiyyah, Toko Indonesia di Baghdadiyah Sharqiyah, Toko Surabaya, dan Baghalah-baghalah lainnya. Merk-nya pun ada berbagai macam, ada bakso cap Presiden -ada yang kecil dan bakso super- ,ada bakso merk Firdaus, dll. Namun, bagi saya yang terenak yang pernah saya rasakan adalah bakso merk Sriwijaya. Tapi, untuk mendapatkannya, kita mesti memesan terlebih dahulu karena bakso ini hanya dibuat sesuai pesanan saja (made by order). Biasanya, ibu-ibu di Jeddah janjian untuk memesannya bersama sekalian hingga beberapa kilogram.

Kalau anda sedang sangat malas untuk pergi ke Jeddah, namun sangat merindukan bakso, jangan khawatir, di KAUST pun kita bisa menemukannya. Teman-teman Indonesia di sini sudah sangat berpengalaman dalam ngumpul-ngumpul sambil bikin bakso. Hasilnya? Jangan tanya, pasti licin tandas!

Pempek

Meski tak lebih terkenal dari bakso, Pempek juga merupakan makanan khas Indonesia. Bagi penggemar siomay seperti saya ini, Pempek yang masih satu family dengan siomay –karena sama-sama dibuat dari ikan dan tepung tapioka- adalah menu yang mesti dicari keberadaannya.

Dulu, saking kuper-nya saya, tak pernah saya membayangkan ada yang menjual pempek di Saudi. Tapi tak ada yang tak mungkin. Setelah berkenalan dengan warga Indonesia yang sudah tinggal lama di Jeddah, saya baru tahu kalau pempek bukan barang langka di sini. Kita bisa memesan pempek lezat yang rasanya orisinil rasa Indonesia, dengan rasa cuko yang mantap. Di Jeddah, ada warga Indonesia yang berasal dari Palembang yang menerima pesanan pempek. Ada pempek lenjer maupun kapal selam. Harganya pun murah, lho. Kalau tidak salah satu potongnya seharga 5 riyal saja, tapi berlaku minimum pesanannya. Yang penting diingat adalah kita mesti punya teman yang tinggal di Jeddah yang bersedia menjadi tempat singgah si Pempek. Karena sistem si ibu penjual ini adalah delivery shop, kita musti ada teman di Jeddah yang lokasi rumahnya diketahui (biasanya warga Indonesia yang tinggal di Jeddah saling kenal satu sama lain). Kita cukup menelepon, kemudian pempek diantar ke rumah teman kita sesuai perjanjian dan dibayar. Kita bisa mengambilnya kemudian.

Rasanya enak, kenyal, seperti rasa pempek di Indonesia, meski rasa ikannya agak sedikit berbeda di lidah. Namun, overall, saya sangat menyukainya. Beberapa bulan sekali saya biasa memesannya. Kebetulan apartemen tempat ibu ini tinggal sempat terbakar beberapa waktu yang lalu, kita bisa membantu beliau dengan melanggengkan bisnisnya dengan cara memesan pempek banyak-banyak (dan makan banyak-banyak hehe…)

Selain yang made by order, kini kita bisa menemukan pempek siap santap di restoran. Di restoran Putri Sriwijaya, kita bisa menikmatinya. Namun sayang, meski ekspektasi saya sudah tinggi –karena nama restorannya- rasa pempek di sini bagi saya kurang memuaskan. Rasa ikannya tidak terlalu kentara, lebih terasa seperti cimol kalau di Bandung. Paduan cuko-nya pun kurang nendang di lidah, dan tidak ada pempek kapal selam. Potongan pempeknya pendek-pendek dan kecil-kecil yang cukup untuk dua kali suapan. Dalam satu porsi ada sekitar 4-5 potong pempek.

Selain di restoran tersebut, di Warung Bakso Mang Oedin pun kini kita bisa memesannya. Seporsi pempek berisi satu potong pempek panjang dan satu pempek kapal selam, bihun, cuko, dan potongan timun. Rasa ikannya lumayan terasa meski saya menemukan sedikit rasa ebi di dalamnya. Cukonya lumayan enak dan pedas. Sayangnya, telur yang ada di dalam Pempek kapal selam bukan telur yang seperti biasanya (terpisah putih dan kuningnya), namun sudah dikocok terlebih dahulu, sehingga terasa seperti telur dadar. Namun, untuk pengobat rindu, tidak ada salahnya anda mencicipnya sekali waktu jika berkunjung ke Ballad.

Selain dua menu tadi masih banyak makanan enak di sini, baik menu Indonesia maupun luar, yang pantas untuk dicoba, dicicipi, dan di-review. Masih banyak juga restoran enak pantas disebut namanya di blog KAUSTINA ini.

Jadi sepertinya, kita harus bertemu di part selanjutnya! (maksa)

 

 

–Ummu Fatih–

KAUST, Thuwal 21/12/2013, 21⁰C