Selayang pandang minggu pertama di KAUST

Selayang pandang minggu pertama di KAUST

Sea side view from Building 5

Tujuh tahun hidup di “dream land” Japan tentu tidak mudah untuk menemukan pengganti. Bahkan hidup transit 40 hari di “water land” (tanah air) saja sudah megap-megap protes sana-sini. Kini saya menjalanin hari baru di “holy land” di Saudi Arabia. Tapi menurut pribadi saya bilang tempat ini tidak bisa disamakan dengan daerah arab yang lain karena KAUST mempunyai “otonomi khusus”. Tapi saya yakin universitas lain juga memiliki “otonomi khusus” lainnya, tapi saya belum mengetahuinya. Berikut pengalaman saya terhadap KAUST.

1. VIP guest Setibanya di Jeddah Airport, kami orang yang keluar terakhir dari pesawat. Pasukan semua (red: istri dan dua bayi) sakit dan kita semua lelah. Tentu begitu tiba di imigrasi antriannya panjang bukan maen dan kita pasrah sudah. Dengan wajah capek, seorang petugas dengan badge KAUST menghampiri kami, “KAUST?”, kata dia. Kemudian kami mengiyakan. Jawaban kami ternyata berbuah indah. Dengan cepat penumpang ekonomi Saudi Airlines seperti berubah menjadi tamu VIP. Kami layaknya tamu istimewa yang segera dikawal melewati puluhan orang yang sudah lama mengantri didepan. Dan tanpa buang waktu kami sudah didepan petugas imigrasi untuk mengurus izin masuk Saudi Arabia. Sedikit saya curi pandang kepada orang yang mengantri. Wajah mereka yang terlihat sangat capek itu terlihat menghilang dan kemudian berganti muncul wajah-wajah angkuh memandangi kami. Sepertinya mereka kesal kenapa kami tiba-tiba menyerobot tanpa izin lagi! Itu privilege KAUST yang pertama. Yang pernah menunaikan umrah tentu mengetahui bagaimana melelahkannya melewati imigrasi di Airport Jeddah, namun untuk pendatang awal di KAUST semua itu bukan masalah 🙂

2. “Red Carpet” from Airport to KAUST Setelah mengambil koper, saya diantar menemui supir yang mengantar saya dan kita pergi meninggalkan bandara. Escort keluarga tidak masalah bagi KAUST, mereka punya mobil bagus dan besar untuk menampung semua bawaan keluarga. Diperjalanan malam saya banyak berbicara dengan supir. Kami pergi dari bandara menuju KAUST dengan melewati highway. Jarak bandara-KAUST sekitar 90km dan tidak ada yang aneh diperjalanan. Yang aneh adalah setibanya kami di gerbang KAUST, saya melihat jalan tol setelah KAUST yang gelap. Ternyata supir memberitahu kami bahwa jalan tol sepanjang bandara hingga KAUST dilengkapi dengan fasilitas khusus, yaitu lampu yang terang benderang. Itu privilege yang kedua; “red-carpet” alias lampu highway dibuat khusus menghampar dari Airport Jeddah hingga KAUST. Dan kami tidak sadar bahwa kami berada di Red Carpet itu :p .

3. Akomodasi dan lingkungan yang nyaman Setelah masuk kewilayah KAUST, kami dibuatkan temporary card sebagai tanda pengenal di KAUST sebelum KAUST ID permanent keluar. Supir dan petugas housing kemudian mengantar kami kerumah yang telah disediakan untuk saya dan keluarga. Begitu masuk rumah, ternyata rumahnya terlalu besar dan megah untuk kami. Dua lantai, empat kamar mandi, empat kamar, garasi mobil dan kamar-kamar lainnya untuk kegiatan lain. Awalnya kami kurang nyaman karena selama tinggal di Jepang, kami sudah terbiasa dengan rumah mungil yang sederhana. Ditambah peraturan super aneh, yaitu AC tidak boleh dimatikan ketika keluar dan jangan diset lebih dari 23 derajat Celcius. Ini pemborosan energi yang luar biasa. Nikmatnya rumah kami ini mirip hotel. Setting-an tempat tidur, kamar mandi, dapur, dining room, living roomnya mirip seperti di presidential suite. Ini “WOW” yang ketiga!

4. Kampus yang mewah and fasilitas kerja yang baik Besok harinya, dihari minggu saya pertama kali memulai kerja (catet hari minggu). Saya janjian dengan teman baru yang baik, namanya Mas Ditho untuk bertemu di Dining hall. Segera setelah jam makan siang, saya mencari mas Ditho di dining hall. Setelah menemukan dining hall ternyata ruang ini tidak seperti kantin universitas tapi lebih mirip restaurant hotel bintang 5 dengan lobby-lobbynya yang nyaman. Dining hall ini sangat nyaman dengan lighting yang agak redup. Dan yang paling penting makanannya murah dan porsinya banyak. Dining hall ini ga seperti kantin-kantin universitas deh. Pokoknya beda. Semua divisi disini memiliki help desk. Dan tugas help desk ini adalah membantu segala macam permasalahan yang ada. Mahasiswa, postdoc dan faculty member tinggal email, telephone atau datang langsung kebagian masing-masing untuk dibantu dan mereka akan memberi ticket numbernya untuk segala request. Semua request langsung dilayani dihari yang sama. Mulai dari minta ruangan, business phone, kabel internet, minta SIM card hingga tukang bersih-bersih rumah bisa dilakukan dengan mudah. Masih banyak cerita lain.

Masih banyak yang pengen diceritain. Nanti-nati aja deh….Yang jelas, kalau Einstein tahu bahwa orang-orang berilmu dikasih fasilitas seperti ini di Arab, dia ga akan mau migrasi ke US. Dan kalau Einstein masuk KAUST saya yakin rumah dia punya helipad sendiri. Yuk ke KAUST, tempat yang nikmat untuk belajar, ibadah dan nabung. Cheers, -r/K- 2006-2013 @ Tokyo Institute of Technology 2013-Now @ KAUST …yeahhhhh