Tiara Puspasari: My PhD is A Million Miracles

Tiara Puspasari: My PhD is A Million Miracles

Ditulis oleh Tiara Puspasari, a fresh PhD holder in Chemical and Biological Engineering (CBE) 🙂

Setelah lulus sidang disertasi Rabu kemaren 25 April 2018, tidak banyak perubahan dalam diri saya. Bahwa saya merasa lebih rileks, tentu saja karena beban pikiran jadi jauh lebih sedikit. Selain itu, semua terasa sama saja. Tapi saya sadari, banyak hal yang harus saya renungi dalam 5 taun ini, banyak keajaiban yang harus saya syukuri, banyak ujian-ujian yang kembali harus saya tafakuri, dan barangkali ada beberapa hal yang bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman yang lain.

Awalnya, memutuskan ambil studi PhD adalah karena saya berkeinginan jadi dosen di kampus saya dahulu. Standar sekali. Sempat mendapat persetujuan salah seorang profesor di amerika, namun tidak berjodoh. Alhamdulillah, mimpi lama ingin masuk KAUST dikabulkan Allah saat itu. Setelah banyak berdoa dan istikharah, di tanggal 3 Ramadan tahun 2012, tiba-tiba email yang saya kirimkan ke beberapa profesor KAUST dibalas oleh Prof. Klaus Peinemann dalam 10 menit saja. Beliau tiba-tiba minta Skype interview, yang dengan mudah berujung persetujuannya untuk maju ke tahap admission tanpa banyak bertanya. Mengingat beliau adalah profesor terkenal dan biasa mendapat ratusan email dari calon student, sementara saya hanyalah mahasiswa biasa yang bahkan dengan kemampuan bahasa inggris yang sedikit di bawah rata-rata saat itu, ini saya sebut “keajaiban” dari Allah.

Ketika admission, aplikasi saya tanpa GRE dan bahkan tanpa nilai toefl, karena saya masih harus ikut kursus pendek untuk kejar nilai minimum yang disyaratkan. Tapi keajaiban lain membuat mereka menerima saya begitu saja. Jadilah saya mahasiswa PhD di membrane center di awal taun 2013.

Ketika itu saya mantap pindah duluan ke Saudi tanpa suami karena beliau masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Istikharah berkali-kali membuat saya mantap dan mendapat dukungan penuh dari keluarga besar. Saya saat itu yakin, sesuai doa istikharah, bahwa kalau hal itu baik untuk saya dan keluarga di dunia dan akhirat, maka Allah akan mentakdirkannya. Dan jika tidak, saya sangat yakin bahwa rencana lain yang lebih baik sedang menunggu kami saat itu. Meski bisnisnya sedang sangat berkembang pesat saat itu, suami juga menyusul saya setelah sebulan. Dalam sebulan berikutnya, alhamdulillah suami langsung mendapat pekerjaan yang disukainya di sini. Alhamdulillah, ini saya anggap jawaban istikharah saya dari Allah.

Menjalani tahun-tahun pertama PhD tidak ada yang istimewa. Saya masak untuk anak saya, Safa pagi-pagi, antar dia ke sekolah lalu lanjut daycare hingga jam 5 sore. Setelah jemput, saya biasa masak untuk makan malam lalu tidur sekitar jam 11an. Pagi, ketika pulang dan saat weekend, saya hampir tidak pernah memegang komputer untuk mengurusi riset meskipun di taun pertama ini semua eksperimen di lab gagal total. Seribet apapun masalah di lab, pantang dibawa ke rumah, paling hanya sebatas didiskusikan dengan suami.

Di taun 2015, saya hamil anak kedua. Sekitar 2-3 bulan awal saya sangat tidak produktif ngelab karena pusing dan lemah luar biasa. Oral presentation di Thailand pun terpaksa dibatalkan. 2-3 bulan akhir juga tidak efektif karena GERD dan backpain saya sangat parah meski sudah pakai koyo, counter pain, bantal punggung dan kompres sekaligus selama di kampus. 9 bulan masa kehamilan saya pakai untuk merancang riset dan membuat paper serta diskusi dengan seorang postdoc berpengalaman. Alhasil ketika lahiran, paper ketiga saya terpublikasi dan terpilih jadi front cover picture. Keajaiban lain.

Dengan dua anak, aktivitas saya tidak jauh berbeda. Hanya saya terkenal tidak terlalu suka ngobrol panjang-panjang di kampus. Awal pagi saya selalu merancang jadwal sehari penuh agar waktu saya efektif. Ketika salah satu anak sakit (rata-rata 1x dalam 2 bulan), saya off biasanya sampai seminggu. Seberat apapun beban di kampus, baru saya pikirkan ketika kembali ngampus. Kalau ada urusan mendesak, saya hold sampai anak-anak tidur. Selama masa studi, saya tidak pernah begadang. Maksimal tidur jam 2 pagi, itupun bisa dihitung jari. Weekend selalu fulltime untuk keluarga. Kerja di lab ketika weekend bisa dihitung jari juga. Klaus tidak pernah komplain dan sangat flexibel dengan gaya riset saya. Bahkan seringkali dia yang minta maaf karena telat mereview paper manuscript saya sementara manuscript saya yang lain sudah di tangan beliau. Mengingat tipikal profesor-profesor KAUST yang hard worker dan sangat strict dengan ekspektasi yang tinggi-tinggi, memiliki supervisor seperti Klaus sungguh suatu keajaiban yang membuat 5 taun ini managable dan menyenangkan.

Menjelang tengah taun 2017, saya berencana lulus. Namun tiba-tiba ada ide sangat menarik yang kemudian dieksekusi di lab. Performa awal membran luar biasa di single-gas test sampai Klaus bilang ada potensi publikasi di nature. Sayangnya setelah 3 bulan fokus, performa membran mengalami kelainan misterius di mixed-gas test, membuat semuanya hanya jadi catatan di lab report. Alhasil, disertasi tidak tergarap dan kelulusan ditangguhkan hingga awal 2018.

Alhamdulillah ketika sidang pekan lalu, semua data (yang bagus) bisa dipresentasikan, di samping banyak projek gagal yang tidak layak dilaporkan. Ketika presentasi, biasanya saya hilang nafas kalau bicara lebih dari 30menit, tapi alhamdulillah saya rileks dan lancar presentasi selama 1 jam. Dalam masa persiapan pun saya merasa tenang. Tim penguji nampak sangat senang dan puas. Klaus said that it was the best defense he has ever seen at KAUST. Saya anggap ini keajaiban. Tips khusus selain persiapan mungkin banyak-banyak istighfar karena mengingat Allah bisa membut hati menjadi tenang. Hehe

Saya sampaikan terima kasih untuk semua pihak yang telah mendukung, membantu, mendoakan dan merelakan studi saya di KAUST. Terkhusus, suami terkasih, Nanang Rosidin yang selalu setia mendengarkan, mendukung, memberi solusi, bersabar, menghibur dan menenangkan. Aku padamu…

Dr. Tiara Puspasari bersama pembimbingnya Dr. Klaus-Viktor Peinemann

Sore tadi mendapat kiriman graduation cake dari Mbak Tuti Yudhanto dan Mas Arief Yudhanto. Terharu. Serasa dapat pelukan dari keluarga sendiri. Mas Arief juga berjasa membuat ulasan disertasi saya di link di bawah ini. Bila ada teman-teman yang tertarik mengenai topik saya (cellulose membranes), paper-paper yang sudah terpublikasi dan disertasi akan saya simpan di researchgate. Bila ada teman-teman yang tertarik dengan KAUST, banyak informasi yang bisa digali di web kami – www.kaustina.org – dan fanpage Kaustina Dotorg. Mudah-mudahan bermanfaat.

Setelah ini beberapa teman bertanya kami akan kemana. Jawabannya, kami akan ulang prosedur ikhtiar, doa dan tawakal kami sama seperti 5 taun lalu.

Mohon doanya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *